Update Terbaru

6/recent/ticker-posts

Kurangi Penumpukan Sampah Organik di TPST, Dra. Siti Pudji Rahayu, M.S. Manfaatkan Kulit Buah Untuk Menghasilkan Eco Enzyme


Liputan5news.com Sidoarjo - Saat ini urusan sampah menjadi masalah serius di masyarakat karena kaitannya dengan penumpukan sampah di TPST dan TPA. Untuk mengurangi penumpukan sampah organik baik di TPST maupun di TPA, Dra. Siti Pudji Rahayu, M.S. (72) memanfaatkan sampah organik yakni kulit buah yang tidak bergetah untuk menghasilkan Eco Enzyme. 

Dra. Siti Pudji Rahayu, M.S. merupakan relawan penyebar informasi atau  penggerak Eco Enzyme. Ketika awak media bertandang ke kediaman ibu Siti Pudji Rahayu di Kawasan Perumahan TNI AL Candi, beliau menyampaikan keinginannya untuk menjadi relawan Eco Enzyme   berawal dari ketika pertama saya pensiun dari sebagai dosen di Departemen Komunikasi Fisip Unair  berusaha mencari kegiatan, kegiatan apa yang bisa saya lakukan ketika saya sudah pensiun ?. Pada awalnya saat menjadi dosen saya  bergerak di IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia). Pada waktu  menjadi dosen saya bergabung di pengusaha karena melihat di lingkungan saya  banyak yang membuat bordir dan sepatu, saya berfikir kalau saya pas lagi penelitian, KKN hasil kerajinan ini bisa saya bawa untuk saya tawarkan di tempat lain. Senin (30/1/2023)

"Seiring berjalannya waktu saya bergerak di IWAPI saya mendapat tawaran dari teman saya yang ada di Thailand untuk mempelajari Eco Enzym. Saya diberi brosur untuk mempelajari," jelasnya.

Lebih lanjut mantan dosen Unair ini  menyampaikan setelah  mempelajarinya saya mencoba untuk diri saya sendiri dan hasilnya bagus. Setelah tahu hasilnya, saya mengajak orang lain untuk membuat Eco Enzyme. Ternyata untuk mengajak orang-orang membuat ini sulit karena mereka tidak mau.

"Akhirnya saya bergabung dengan kelompok Eco Enzyme Bandung, Malang dan Batu. Dari ketika tempat kelompok yang ada itu yang aktif itu yang di Batu karena di sana banyak di hasilkan buah. Setelah itu berkembang, saya melanjutkan mengikuti zoom - zoom. Pada masa pandemi kegiatan juga dilakukan secara zoom, kemudian saya mengikuti  zoom baik secara nasional maupun internasional. Zoom internasional dilakukan oleh Eco Enzyme bakti di  Tiongkok, saya mengikuti  sampai pada sertifikasi sebagai speaker," ucap perempuan yang pernah menjadi anggota Jalasenastri ini.  

Lebih jauh Siti juga menyampaikan setelah itu saya ke pak Kades Sugiwaras  untuk menyampaikan bahwa saya ingin mencari kegiatan. Kebetulan pak Kades  welcome dan langsung diadakan pelatihan, kebetulan juga di dukung oleh pk Sekdes yang aktif sebagai humas. Akhirnya apa yang saya lakukan ini direspon oleh pihak provinsi, dijadi pemberdayaan sampah untuk menghasilkan Eco Enzyme di desa berdaya Sugiwaras.

"Eco Enzyme sendiri di temukan oleh Dr. Rosukon Poompanvong dari Thailand, pada tahun 2005 beliau  mendapat piagam penghargaan dari PBB bahwa Eco Enzyme ini bisa disampaikan ke dunia. Dr. Rosukon sendiri tidak mematenkan hasil penelitiannya. Padahal dia melakukan penelitian selama 30 tahun tapi tidak dipatenkan agar seluruh bangsa di seluruh dunia ini bisa memanfaatkan hasil penelitian dia tanpa membayar royalti. Makanya kami relawan Eco Enzyme tidak memungut biaya dan tidak memperjual belikan Eco Enzyme, semua dilakukan secara sukarela," urainya. 

Menurut Siti ternyata semakin hari semakin terbukti bahwa Eco Enzyme banyak manfaatnya, diantaranya untuk kesehatan, kebersihan rumah, kebersihan lingkungan, tanaman, air dan binatang piaraan karena Eco Enzyme bisa meghilangkan bau, bisa sebagai desinfektan, pupuk, pembersih udara, alat kecantikan.

"Saya mulai sekarang hanya  menggunakan Eco Enzyme, mulai dari mandi, keramas, gosok gigi, mencuci. Karang gigi pun bisa hilang kalau kumur dengan Eco Enzyme, sakit gigi, gusi bengkak, gusi berdarah, sariawan juga sembuh dengan kumur Eco Enzyme," tambahnya.  

Siti juga menyampaikan Eco Enzyme ini kita buat dari kulit buah yang tidak bergetah yang masih segar, sisa sayur yang masih segar dan molase atau gula merah  melalui proses fermentasi. Semua kita lakukan untuk mengurangi tumpukan sampah organik baik di TPST maupun di TPA," jelasnya. 

"Alhamdulillah apa yang semua saya lakukan ini mendapat dukungan keluarga baik anak maupun suami," tandasnya. (Yanti)

Posting Komentar

0 Komentar